Darah yang mengalir dalam tubuh ini,
ada pertautan dengan darah yang mengalir dalam tubuh kalian berdua, Nak
Ratu Mustika Permata Lesi, Gusti Yolanda Mutiara Lesi....
bagaimanapun kalian adalah
sesuatu yang pernah mewarnai ruang kerinduan pada dada Awan,
Kerinduan ingin bertemu karena teringat kelucuan kalian,
dan kerinduan itu sampai kini masih ada...
Sampai kapanpun
kalian tidak akan pernah bisa menghapus jejak darah yang dialirkan dari Datuk dan Andung,
jejak pengorbanan Datuk-Andung untuk orangtua kalian...
Semoga Ananda berdua selalu dalam Lindungan Allah SWT
dan dalam kebahagiaan selalu ya Nak....
Selasa, 16 Agustus 2011
Selasa, 03 Agustus 2010
Kuingin memanggilmu, wahai Ayahnda
terutama ketika semangatku sedang terjun bebas,
kuingin membuka lembar-lembar kisahmu
pada alinea-alinea yang berkisah tentang masa kritis
yang mampu kau lewati
Kuingin mengenangmu, wahai Ayahnda
lebih-lebih saat jiwaku sedang rapuh,
aku ingin...
sepatakatamu yang melecutku kembali....
Negeri Masa Depan kumenyebutnya
tempat bersemayam sejuta angan masa depan
hastina yang penuh dengan bunga,
mengalirlah sungai-sungai madu,
sekitarnya, danau arak tak memabukkan,
sembari menikmati angin semilir...
Negeri adn Kau menyebutnya
negeri tujuan setelah kefanaan ini
sebuah negeri keabadian tentu saja
tanpa tepi, tanpa cakrawala....
Sebuah negeri yang pasti ada
pada suatu ketika.....
Jumat, 23 April 2010
Bunda tolong mandikan aku sekali saja, please...?
----------> (Mom Top Story)
Dewi adalah sahabat saya, ia adalah seorang mahasiswi yang berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ''Why not to be the best?,'' begitu ucapan yang kerap kali terdengar dari mulutnya, mengutip ucapan seorang mantan presiden Amerika.
Ketika Kampus, mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht-Belanda, Dewi termasuk salah satunya.
Setelah menyelesaikan kuliahnya, Dewi mendapat pendamping hidup yang ''selevel''; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. tak lama berselang lahirlah Bayu, buah cinta mereka, anak pertamanya tersebut lahir ketika Dewi diangkat manjadi staf diplomat, bertepatan dengan suaminya meraih PhD. Maka lengkaplah sudah kebahagiaan mereka.
Ketika Bayu, berusia 6 bulan, kesibukan Dewi semakin menggila. Bak seekor burung garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Sebagai seorang sahabat setulusnya saya pernah bertanya padanya, "Tidakkah si Bayu masih terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal oleh ibundanya ?" Dengan sigap Dewi menjawab, "Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya dengan sempurna". "Everything is OK !, Don’t worry Everything is under control kok !" begitulah selalu ucapannya, penuh percaya diri.
Ucapannya itu memang betul-betul ia buktikan. Perawatan anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter termahal. Dewi tinggal mengontrol jadwal Bayu lewat telepon. Pada akhirnya Bayu tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas mandiri dan mudah mengerti.
Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang betapa hebatnya ibu-bapaknya. Tentang gelar Phd. dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang berlimpah. "Contohlah ayah-bundamu Bayu, kalau Bayu besar nanti jadilah seperti Bunda". Begitu selalu nenek Bayu, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.
Ketika Bayu berusia 5 tahun, neneknya menyampaikan kepada Dewi kalau Bayu minta seorang adik untuk bisa menjadi teman bermainnya dirumah apa bila ia merasa kesepian.
Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Dewi dan suaminya kembali meminta pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Bayu. Lagi-lagi bocah kecil inipun mau ''memahami'' orangtuanya.
Dengan Bangga Dewi mengatakan bahwa kamu memang anak hebat, buktinya, kata Dewi, kamu tak lagi merengek minta adik. Bayu, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek dan sangat mandiri. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur Dewi pada saya , Bayu selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Dewi sering memanggilnya malaikat kecilku. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, namun Bayu tetap tumbuh dengan penuh cinta dari orang tuanya. Diam-diam, saya jadi sangat iri pada keluarga ini.
Suatu hari, menjelang Dewi berangkat ke kantor, entah mengapa Bayu menolak dimandikan oleh baby sitternya. Bayu ingin pagi ini dimandikan oleh Bundanya," Bunda aku ingin mandi sama bunda...please...please bunda", pinta Bayu dengan mengiba-iba penuh harap.
Karuan saja Dewi, yang detik demi detik waktunya sangat diperhitungkan merasa gusar dengan permintaan anaknya. Ia dengan tegas menolak permintaan Bayu, sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Bayu agar mau mandi dengan baby sitternya. Lagi-lagi, Bayu dengan penuh pengertian mau menurutinya, meski wajahnya cemberut.
Peristiwa ini terus berulang sampai hampir sepekan. "Bunda, mandikan aku !" Ayo dong bunda mandikan aku sekali ini saja...?" kian lama suara Bayu semakin penuh tekanan. Tapi toh, Dewi dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Bayu sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Bayu bisa ditinggal juga dan mandi bersama Mbanya.
Sampai suatu sore, Dewi dikejutkan oleh telpon dari sang baby sitter, "Bu, hari ini Bayu panas tinggi dan kejang-kejang. Sekarang sedang di periksa di Ruang Emergency".
Dewi, ketika diberi tahu soal Bayu, sedang meresmikan kantor barunya di Medan. Setelah tiba di Jakarta, Dewi langsung ngebut ke UGD. Tapi sayang... terlambat sudah...Tuhan sudah punya rencana lain. Bayu, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh Tuhannya.. Terlihat Dewi mengalami shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah untuk memandikan putranya, setelah bebarapa hari lalu Bayu mulai menuntut ia untuk memandikannya, Dewi pernah berjanji pada anaknya untuk suatu saat memandikannya sendiri jika ia tidak sedang ada urusan yang sangat penting. Dan siang itu, janji Dewi akhirnya terpenuhi juga, meskipun setelah tubuh si kecil terbujur kaku.
Ditengah para tetangga yang sedang melayat, terdengar suara Dewi dengan nada yang bergetar berkata "Ini Bunda Nak...., Hari ini Bunda mandikan Bayu ya...sayang....! akhirnya Bunda penuhi juga janji Bunda ya Nak.." . Lalu segera saja satu demi satu orang-orang yang melayat dan berada di dekatnya tersebut berusaha untuk menyingkir dari sampingnya, sambil tak kuasa untuk menahan tangis mereka.
Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, para pengiring jenazah masih berdiri mematung di sisi pusara sang Malaikat Kecil. . Berkali-kali Dewi, sahabatku yang tegar itu, berkata kepada rekan-rekan disekitanya, "Inikan sudah takdir, ya kan..!" Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya di panggil, ya dia pergi juga, iya kan?". Saya yang saat itu tepat berada di sampingnya diam saja. Seolah-olah Dewi tak merasa berduka dengan kepergian anaknya dan sepertinya ia juga tidak perlu hiburan dari orang lain.
Sementara di sebelah kanannya, Suaminya berdiri mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pucat pasi dengan bibir bergetar tak kuasa menahan air mata yang mulai meleleh membasahi pipinya.
Sambil menatap pusara anaknya, terdengar lagi suara Dewi berujar, "Inilah konsekuensi sebuah pilihan!" lanjut Dewi, tetap mencoba untuk tegar dan kuat.
Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja yang menusuk hidung hingga ke tulang sumsum. Tak lama setelah itu tanpa di duga-duga tiba-tiba saja Dewi jatuh berlutut, lalu membantingkan dirinya ke tanah tepat diatas pusara anaknya sambil berteriak-teriak histeris. "Bayu maafkan Bunda ya sayaang..!!, ampuni bundamu ya nak...? serunya berulang-ulang sambil membenturkan kepalanya ketanah, dan segera terdengar tangis yang meledak-ledak dengan penuh berurai air mata membanjiri tanah pusara putra tercintanya yang kini telah pergi untuk selama-lamanya.
Sepanjang persahabatan kami, rasanya baru kali ini saya menyaksikan Dewi menangis dengan histeris seperti ini.
Lalu terdengar lagi Dewi berteriak-teriak histeris "Bangunlah Bayu sayaaangku....Bangun Bayu cintaku, ayo bangun nak.....?!?" pintanya berulang-ulang, "Bunda mau mandikan kamu sayang.... Tolong Beri kesempatan Bunda sekali saja Nak.... Sekali ini saja, Bayu.. anakku...?" Dewi merintih mengiba-iba sambil kembali membenturkan kepalanya berkali-kali ke tanah lalu ia peluki dan ciumi pusara anaknya bak orang yang sudah hilang ingatan. Air matanya mengalir semakin deras membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Bayu.
Senja semakin senyap, aroma bunga kamboja semakin tercium kuat manusuk hidung membuat seluruh bulu kuduk kami berdiri menyaksikan peristiwa yang menyayat hati ini...tapi apa hendak di kata, nasi sudah menjadi bubur, sesal kemudian tak berguna. Bayu tidak pernah mengetahui bagaimana rasanya dimandikan oleh orang tuanya karena mereka merasa bahwa banyak hal yang jauh lebih penting dari pada hanya sekedar memandikan seorang anak.
Semoga kisah ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua yang sering merasa hebat dan penting dengan segala kesibukannya.
copy paste dari kang Guntur
Dewi adalah sahabat saya, ia adalah seorang mahasiswi yang berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ''Why not to be the best?,'' begitu ucapan yang kerap kali terdengar dari mulutnya, mengutip ucapan seorang mantan presiden Amerika.
Ketika Kampus, mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht-Belanda, Dewi termasuk salah satunya.
Setelah menyelesaikan kuliahnya, Dewi mendapat pendamping hidup yang ''selevel''; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. tak lama berselang lahirlah Bayu, buah cinta mereka, anak pertamanya tersebut lahir ketika Dewi diangkat manjadi staf diplomat, bertepatan dengan suaminya meraih PhD. Maka lengkaplah sudah kebahagiaan mereka.
Ketika Bayu, berusia 6 bulan, kesibukan Dewi semakin menggila. Bak seekor burung garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Sebagai seorang sahabat setulusnya saya pernah bertanya padanya, "Tidakkah si Bayu masih terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal oleh ibundanya ?" Dengan sigap Dewi menjawab, "Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya dengan sempurna". "Everything is OK !, Don’t worry Everything is under control kok !" begitulah selalu ucapannya, penuh percaya diri.
Ucapannya itu memang betul-betul ia buktikan. Perawatan anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter termahal. Dewi tinggal mengontrol jadwal Bayu lewat telepon. Pada akhirnya Bayu tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas mandiri dan mudah mengerti.
Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang betapa hebatnya ibu-bapaknya. Tentang gelar Phd. dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang berlimpah. "Contohlah ayah-bundamu Bayu, kalau Bayu besar nanti jadilah seperti Bunda". Begitu selalu nenek Bayu, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.
Ketika Bayu berusia 5 tahun, neneknya menyampaikan kepada Dewi kalau Bayu minta seorang adik untuk bisa menjadi teman bermainnya dirumah apa bila ia merasa kesepian.
Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Dewi dan suaminya kembali meminta pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Bayu. Lagi-lagi bocah kecil inipun mau ''memahami'' orangtuanya.
Dengan Bangga Dewi mengatakan bahwa kamu memang anak hebat, buktinya, kata Dewi, kamu tak lagi merengek minta adik. Bayu, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek dan sangat mandiri. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur Dewi pada saya , Bayu selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Dewi sering memanggilnya malaikat kecilku. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, namun Bayu tetap tumbuh dengan penuh cinta dari orang tuanya. Diam-diam, saya jadi sangat iri pada keluarga ini.
Suatu hari, menjelang Dewi berangkat ke kantor, entah mengapa Bayu menolak dimandikan oleh baby sitternya. Bayu ingin pagi ini dimandikan oleh Bundanya," Bunda aku ingin mandi sama bunda...please...please bunda", pinta Bayu dengan mengiba-iba penuh harap.
Karuan saja Dewi, yang detik demi detik waktunya sangat diperhitungkan merasa gusar dengan permintaan anaknya. Ia dengan tegas menolak permintaan Bayu, sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Bayu agar mau mandi dengan baby sitternya. Lagi-lagi, Bayu dengan penuh pengertian mau menurutinya, meski wajahnya cemberut.
Peristiwa ini terus berulang sampai hampir sepekan. "Bunda, mandikan aku !" Ayo dong bunda mandikan aku sekali ini saja...?" kian lama suara Bayu semakin penuh tekanan. Tapi toh, Dewi dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Bayu sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Bayu bisa ditinggal juga dan mandi bersama Mbanya.
Sampai suatu sore, Dewi dikejutkan oleh telpon dari sang baby sitter, "Bu, hari ini Bayu panas tinggi dan kejang-kejang. Sekarang sedang di periksa di Ruang Emergency".
Dewi, ketika diberi tahu soal Bayu, sedang meresmikan kantor barunya di Medan. Setelah tiba di Jakarta, Dewi langsung ngebut ke UGD. Tapi sayang... terlambat sudah...Tuhan sudah punya rencana lain. Bayu, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh Tuhannya.. Terlihat Dewi mengalami shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah untuk memandikan putranya, setelah bebarapa hari lalu Bayu mulai menuntut ia untuk memandikannya, Dewi pernah berjanji pada anaknya untuk suatu saat memandikannya sendiri jika ia tidak sedang ada urusan yang sangat penting. Dan siang itu, janji Dewi akhirnya terpenuhi juga, meskipun setelah tubuh si kecil terbujur kaku.
Ditengah para tetangga yang sedang melayat, terdengar suara Dewi dengan nada yang bergetar berkata "Ini Bunda Nak...., Hari ini Bunda mandikan Bayu ya...sayang....! akhirnya Bunda penuhi juga janji Bunda ya Nak.." . Lalu segera saja satu demi satu orang-orang yang melayat dan berada di dekatnya tersebut berusaha untuk menyingkir dari sampingnya, sambil tak kuasa untuk menahan tangis mereka.
Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, para pengiring jenazah masih berdiri mematung di sisi pusara sang Malaikat Kecil. . Berkali-kali Dewi, sahabatku yang tegar itu, berkata kepada rekan-rekan disekitanya, "Inikan sudah takdir, ya kan..!" Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya di panggil, ya dia pergi juga, iya kan?". Saya yang saat itu tepat berada di sampingnya diam saja. Seolah-olah Dewi tak merasa berduka dengan kepergian anaknya dan sepertinya ia juga tidak perlu hiburan dari orang lain.
Sementara di sebelah kanannya, Suaminya berdiri mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pucat pasi dengan bibir bergetar tak kuasa menahan air mata yang mulai meleleh membasahi pipinya.
Sambil menatap pusara anaknya, terdengar lagi suara Dewi berujar, "Inilah konsekuensi sebuah pilihan!" lanjut Dewi, tetap mencoba untuk tegar dan kuat.
Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja yang menusuk hidung hingga ke tulang sumsum. Tak lama setelah itu tanpa di duga-duga tiba-tiba saja Dewi jatuh berlutut, lalu membantingkan dirinya ke tanah tepat diatas pusara anaknya sambil berteriak-teriak histeris. "Bayu maafkan Bunda ya sayaang..!!, ampuni bundamu ya nak...? serunya berulang-ulang sambil membenturkan kepalanya ketanah, dan segera terdengar tangis yang meledak-ledak dengan penuh berurai air mata membanjiri tanah pusara putra tercintanya yang kini telah pergi untuk selama-lamanya.
Sepanjang persahabatan kami, rasanya baru kali ini saya menyaksikan Dewi menangis dengan histeris seperti ini.
Lalu terdengar lagi Dewi berteriak-teriak histeris "Bangunlah Bayu sayaaangku....Bangun Bayu cintaku, ayo bangun nak.....?!?" pintanya berulang-ulang, "Bunda mau mandikan kamu sayang.... Tolong Beri kesempatan Bunda sekali saja Nak.... Sekali ini saja, Bayu.. anakku...?" Dewi merintih mengiba-iba sambil kembali membenturkan kepalanya berkali-kali ke tanah lalu ia peluki dan ciumi pusara anaknya bak orang yang sudah hilang ingatan. Air matanya mengalir semakin deras membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Bayu.
Senja semakin senyap, aroma bunga kamboja semakin tercium kuat manusuk hidung membuat seluruh bulu kuduk kami berdiri menyaksikan peristiwa yang menyayat hati ini...tapi apa hendak di kata, nasi sudah menjadi bubur, sesal kemudian tak berguna. Bayu tidak pernah mengetahui bagaimana rasanya dimandikan oleh orang tuanya karena mereka merasa bahwa banyak hal yang jauh lebih penting dari pada hanya sekedar memandikan seorang anak.
Semoga kisah ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua yang sering merasa hebat dan penting dengan segala kesibukannya.
copy paste dari kang Guntur
Senin, 19 April 2010
::MANIFESTO SENYAP::.
Mata air kehidupan itu sesungguhnya tengah kau teguk kawan.
Sepuas-puasnya kau telan melewati kerongkonganmu.
Iya berhenti manakala nafasmu pun telah tersendat untuk selamanya.
Mata air kehidupan itu adalah semangatmu untuk menghadapi hidup itu sendiri.
Selagi semangat untuk menghadapi hidup masih menggelora
maka dengan atau tanpa sadar kau telah mereguk mata air kehidupan itu.
Tidak ada gunanya berkeluhkesah tentang kegagalan, keterpurukan atau kekalahan.
Toh pada azalinya, semua kemenangan itu diwarnai oleh bumbu-bumbu kekalahan,
karena dengan kekalahan membuat kita mara untuk maju ke depan, berjuang.
Coba kita renungkan kisah kehidupan kita sejak kita dilahirkan.
Kita dilahirkan, menyapa dunia ini dengan satu suara seragam,
artinya kita semua pada asalnya adalah sama saja : bayi tak berdaya, lemah dan cengeng. Bahasa ungkapan hanya satu juga: tangis.
Dalam ketidakberdayaan itu, ada tangan2 penuh kasih yang menggapai2 kita,
memberikan cinta sepenuh hati.
Karena kita adalah harapan perjuangan berkesinambungan menantang kehidupan.
Karena kita adalah harapan kebanggaan masa yang akan datang dari orang2 penuh kasih itu.
Sepuas-puasnya kau telan melewati kerongkonganmu.
Iya berhenti manakala nafasmu pun telah tersendat untuk selamanya.
Mata air kehidupan itu adalah semangatmu untuk menghadapi hidup itu sendiri.
Selagi semangat untuk menghadapi hidup masih menggelora
maka dengan atau tanpa sadar kau telah mereguk mata air kehidupan itu.
Tidak ada gunanya berkeluhkesah tentang kegagalan, keterpurukan atau kekalahan.
Toh pada azalinya, semua kemenangan itu diwarnai oleh bumbu-bumbu kekalahan,
karena dengan kekalahan membuat kita mara untuk maju ke depan, berjuang.
Coba kita renungkan kisah kehidupan kita sejak kita dilahirkan.
Kita dilahirkan, menyapa dunia ini dengan satu suara seragam,
artinya kita semua pada asalnya adalah sama saja : bayi tak berdaya, lemah dan cengeng. Bahasa ungkapan hanya satu juga: tangis.
Dalam ketidakberdayaan itu, ada tangan2 penuh kasih yang menggapai2 kita,
memberikan cinta sepenuh hati.
Karena kita adalah harapan perjuangan berkesinambungan menantang kehidupan.
Karena kita adalah harapan kebanggaan masa yang akan datang dari orang2 penuh kasih itu.
Jumat, 16 April 2010
AKU HANYA INGIN BERKISAH YG INDAH-INDAH...(Part II : 4 Tante)
Aku tahu kau tidak sesabar Ayyub alayhissalam, kekasihku
dalam meniti jalan kehidupan ini
dan aku pun tidak menuntutmu selayaknya Ayyub kekasih Allah itu
karena akupun tidak mungkin menjadi Asiyah
selalu sabar meski harus mengorbankan nyawanya
demi sebuah keyakinan
tetapi...bukankah kisah2 itu Allah sampaikan lewat lisan Rosulullah
untuk dijadikan pelajaran bagi kita manusia2 dhoif akhir zaman
Aku mafhum kau tidaklah sekuat Yahya alayhissalam, tambatanku
dan aku juga tidak mengharuskanmu bak Yahya kekasih Allah itu
karena akupun tidak mungkin setegar dan sekuat fatimah azzahra
dalam mendampingimu merajut kehidupan ini
hanya...bukankah dua pondasi jauh lebih kuat
ketimbang hanya satu yang menopang
Aku sadar kau tidaklah setangguh Isa alayhissalam, kekasihku
dan akupun tidak mungkin mengharapkanmu selayaknya Isa kekasih Allah itu
karena akupun tidak bisa setangguh siti Hajjar dalam melawan
berbagai cobaan yang mendera
tapi aku ingin belajar menjadi layaknya karang yang dihantam ombak
Memulai cerita dengan kisah-kisah kecemerlangan
adalah keinginanku
bukan kisah2 yang mencekam perasaan
dalam hal apapun
Aku ingin berjalan disampingmu
menuju tujuan yang sama
yang lurus...tak berbelok
karena aku tidak ingin kita termasuk manusia2 yang tidak bersyukur
dihadapanNya
Aku ingin gubug kita adalah syurga
yang disanalah anak-anak kita bermain, tumbuh dalam kedamaian
Aku ingin naung rumah kita adalah cahayaNya
yang mendamaikan, menyejukkan....
dalam meniti jalan kehidupan ini
dan aku pun tidak menuntutmu selayaknya Ayyub kekasih Allah itu
karena akupun tidak mungkin menjadi Asiyah
selalu sabar meski harus mengorbankan nyawanya
demi sebuah keyakinan
tetapi...bukankah kisah2 itu Allah sampaikan lewat lisan Rosulullah
untuk dijadikan pelajaran bagi kita manusia2 dhoif akhir zaman
Aku mafhum kau tidaklah sekuat Yahya alayhissalam, tambatanku
dan aku juga tidak mengharuskanmu bak Yahya kekasih Allah itu
karena akupun tidak mungkin setegar dan sekuat fatimah azzahra
dalam mendampingimu merajut kehidupan ini
hanya...bukankah dua pondasi jauh lebih kuat
ketimbang hanya satu yang menopang
Aku sadar kau tidaklah setangguh Isa alayhissalam, kekasihku
dan akupun tidak mungkin mengharapkanmu selayaknya Isa kekasih Allah itu
karena akupun tidak bisa setangguh siti Hajjar dalam melawan
berbagai cobaan yang mendera
tapi aku ingin belajar menjadi layaknya karang yang dihantam ombak
Memulai cerita dengan kisah-kisah kecemerlangan
adalah keinginanku
bukan kisah2 yang mencekam perasaan
dalam hal apapun
Aku ingin berjalan disampingmu
menuju tujuan yang sama
yang lurus...tak berbelok
karena aku tidak ingin kita termasuk manusia2 yang tidak bersyukur
dihadapanNya
Aku ingin gubug kita adalah syurga
yang disanalah anak-anak kita bermain, tumbuh dalam kedamaian
Aku ingin naung rumah kita adalah cahayaNya
yang mendamaikan, menyejukkan....
Kamis, 15 April 2010
Rabu, 14 April 2010
Risaukah kau pada dirimu sekarang ini?
menggelayutkan asa pada ranting koyak yg hampir saja rebah
Risaukah kau pada dirimu sekarang ini?
mengecam masa...sementara waktu itupun terus berlalu!!
seharusnya gundahlah pada keadaan dirimu saat ini
karena kau sebenarnya ada diujung zaman yang lebam....hampir saja melukanganga...!
Selasa, 13 April 2010
Seperti perkebunan Garudagmu
yang semilir kala tertiup angin laut........
seperti sedianya engkau masih berdiri diantara rimbunan dahan2nya
padahal itu belasan tahun lalu kita bercengkrama
aku ingin mengulanginya lagi.....
Bak,
lirihmu tatkala gulma mulai meninggi
seperti lirihku...saat ini...mengenangmu....dan mengenangmu...........
Jumat, 19 Maret 2010
Sesuatu itu akan terasa nikmat manakala dia terlepas dari genggaman kita. Apapun yang kita rasakan, nikmati saat ini...apapun itu, kerap kita lupakan bahwa itu semua adalah nikmat. Istri dan anak-anak adalah sesuatu nikmat yang tak ternilai harganya. Tapi mari merenung sejenak, manakala semua menjadi rutinitas; menghadapi anak-anak yang polahlakunya kadang menjengkelkan, tanpa sadar kita kadang marah bahkan dengan nada meninggi, anak kita marahi. Kalau sudah menjadi rutinitas, dan kita tidak coba untuk bersabar, semua jadi ruwet. Rengekan mereka seperti tabuhan musik tanpa arransemen yang jelas. Tangisan mereka seperti letupan petir yang membuat jantung berdegup tak beraturan.
Seorang kawan yang barusan diberi amanah untuk kedua kalinya. Mengatakan, "pengen cepat-cepat besar rasanya, supaya rumah jadi rame dengan tangisan karena rebutan mainan dengan kakaknya.....dst". Hikmah itu kadang datang darimana saja.
Kenapa kita tidak coba menganalogikan segala polah laku anak-anak kita adalah sebuah orkestra yang diarahkan oleh seorang komposer handal. Begitu nikmatnya kita menikmati alunan orkestra Mozart, seharusnya seperti itulah kita menikmati segala polah anak-anak kita itu.
Masa-masa penuh tangis, rengekan, dan "berantem" itu akan segera berlalu. Tidak cukup lama. Paling lama sepuluh tahun usia si bungsu. Dan semuanya akan terlewatkan. Berlalu dan tidak pernah kembali.
Seorang kawan yang barusan diberi amanah untuk kedua kalinya. Mengatakan, "pengen cepat-cepat besar rasanya, supaya rumah jadi rame dengan tangisan karena rebutan mainan dengan kakaknya.....dst". Hikmah itu kadang datang darimana saja.
Kenapa kita tidak coba menganalogikan segala polah laku anak-anak kita adalah sebuah orkestra yang diarahkan oleh seorang komposer handal. Begitu nikmatnya kita menikmati alunan orkestra Mozart, seharusnya seperti itulah kita menikmati segala polah anak-anak kita itu.
Masa-masa penuh tangis, rengekan, dan "berantem" itu akan segera berlalu. Tidak cukup lama. Paling lama sepuluh tahun usia si bungsu. Dan semuanya akan terlewatkan. Berlalu dan tidak pernah kembali.
Rabu, 16 Desember 2009
Bekerja dengan hati begitu sulitnya. Menjadi orang yang ikhlas itu emang sulit. Kerja ikhlas, sholat ikhlas, mengasihi anak istri tercinta ikhlas, weh...teori ame nyablak mach guaampang! Asli guampang pollll.
Tapi kalo udah urusan hate, baru juga dicubit dikit ame big boss udah ada -meski dikiiit (saking dikitnye) - kesel dihati. Ya namanya diingatkan, harusnya terima aja po-o. harusnya jadiin cambuk tuh wejangan. Jangan jadiiin Palu godam (bisa "lewat" lo ntar). Jangan disimpen hati!!!. Lawong jenenge boss, ya pastinya pengen anakbuah kerja tepat waktu, baik, mulus, minim bug, bisa nagih dech....hayaah. Itu sih normal cuy! Jangan frustasi, marah, apalagi bunuh diri (amit2 tujuh turunan, jangan sampe deh). Tapi kita ni kan manusie juga PaCe. Emang gak boleh kesel, gak boleh mere, gak boleee....(sek..sek....sek... kalo bunuh diri, ya emang ga boleh ntu sih. Mauu, lo masuk neraka?). Kali2 bolehlah, tapi jangan terus2an, ntar beneran sutriss, melebu RSJ, lah sopo sing arep ngasi anak istri mangan rek...!
Begini ajalah, anggap aja wejangan boss ntu, kayak lo ngantuk mo nyebrang rel kereta. Nah bayangin aja, nyebrang rel, pake acara ngantuk. Barengan ama ntu, si kekheta (kali ini gue logat Lampung. Masa tanah kelahiran dilupain rek), mo liwat. Nach lo andain aja, wejangan atau semprotan boss lo ntu, kaya lo ditepok biar lo bangun, jadi gak ditabrak ntu kereta. Beresskan? Kagak suse. Idup jangan dibuat suse deh. Dibuat gampang aja cuy. Pas butuh beras, berasnye gampang, pas butuh beli gas, gasnye malah dateng ndiri (dianter pegawai tokonye maksud aye), pas mo beli mobil, gampang juga duitnya. kan enak. Pas anak mo masuk sekolah, gampang jg masuknya (kecuali anak lo bebal, kayaknya SLB cocok tuh...) Enak kan? ya enak donk. Dunia Allah nyang punya ini. kecuali dunia yang punya belis atau rampok2 di birokrasi itu. suse deh kita orang kecil mach, kagak bakal kebagian kalo modelnye begeto mach....
Tapi kalo udah urusan hate, baru juga dicubit dikit ame big boss udah ada -meski dikiiit (saking dikitnye) - kesel dihati. Ya namanya diingatkan, harusnya terima aja po-o. harusnya jadiin cambuk tuh wejangan. Jangan jadiiin Palu godam (bisa "lewat" lo ntar). Jangan disimpen hati!!!. Lawong jenenge boss, ya pastinya pengen anakbuah kerja tepat waktu, baik, mulus, minim bug, bisa nagih dech....hayaah. Itu sih normal cuy! Jangan frustasi, marah, apalagi bunuh diri (amit2 tujuh turunan, jangan sampe deh). Tapi kita ni kan manusie juga PaCe. Emang gak boleh kesel, gak boleh mere, gak boleee....(sek..sek....sek... kalo bunuh diri, ya emang ga boleh ntu sih. Mauu, lo masuk neraka?). Kali2 bolehlah, tapi jangan terus2an, ntar beneran sutriss, melebu RSJ, lah sopo sing arep ngasi anak istri mangan rek...!
Begini ajalah, anggap aja wejangan boss ntu, kayak lo ngantuk mo nyebrang rel kereta. Nah bayangin aja, nyebrang rel, pake acara ngantuk. Barengan ama ntu, si kekheta (kali ini gue logat Lampung. Masa tanah kelahiran dilupain rek), mo liwat. Nach lo andain aja, wejangan atau semprotan boss lo ntu, kaya lo ditepok biar lo bangun, jadi gak ditabrak ntu kereta. Beresskan? Kagak suse. Idup jangan dibuat suse deh. Dibuat gampang aja cuy. Pas butuh beras, berasnye gampang, pas butuh beli gas, gasnye malah dateng ndiri (dianter pegawai tokonye maksud aye), pas mo beli mobil, gampang juga duitnya. kan enak. Pas anak mo masuk sekolah, gampang jg masuknya (kecuali anak lo bebal, kayaknya SLB cocok tuh...) Enak kan? ya enak donk. Dunia Allah nyang punya ini. kecuali dunia yang punya belis atau rampok2 di birokrasi itu. suse deh kita orang kecil mach, kagak bakal kebagian kalo modelnye begeto mach....
Selasa, 15 September 2009
Berdzikir itu bukanlah dengan berteriak2 menyebut kalimat2 thoyyibah, sambil menggeleng2kan kepala, sebagai tanda khusuk. Bukan pula bilangan tasbih yang beribu2, atau ucapan tahlil yang berjuta2. Dzikir itu adalah islam itu sendiri. Artinya berzikir adalah berlaku seperti yang diinginkan islam itu sendiri. Apalah gunanya ucapan2 kalimat toyyibah yang beribu2 itu kalau perilaku justeru kebalikan dari akhlak yang diinginkan islam itu sendiri. Apakah orang yang sedang berzina itu dikatakan islam, maka sesungguhnya dia sudah keluar dari islam ketika dia melakukan dosa itu. Lalu dimana makna zikir selama ini yang kita ucapkan. Dimana makna zikir kalau selepas kita berteriak2 mengumandangkan kalimat toyyibah itu sifat pembohong masih juga melekat dalam diri kita.
Maka apakah orang yang tidak jadi berbohong karena dia ingat akan Allah dan dosa bila ia melakukan perbuatan itu. Itulah makna zikir sesungguhnya.
Bersedekah itu kalau tidak dilatih pasti sangatlah berat. Biasanya sewaktu kita mencoba untuk mengeluarkan lembaran uang kertas, secepat kilat syetan masuk menggoda membisik2. Ngapain lo sedekah, itu uang kan susah nyarinya. Elo dah berkeringat2 mencarinya, masa lo dengan gampannya ngeluarin untuk sesuatu yang gak jelas. Coba kalau uang segitu lo beliin apa, kan udah bisa.
Biasanya emang bisikan2 itu berupa iming2 atau membanding2kan nilai uang yang akan kita keluarin. Maka cara terbaik mengusir godaan2 itu, jangan banyakan mikir. Kalau mau sedekah, ya udah keluarin aja tuh sedekah. Ntar pasti ada ketenangan bathin mesti yang kita keluarkan itu cukup besar. Dijamin....
Kamis, 10 September 2009
malam ke-21, kenapa militansi berbidah tidak terlalu menggebu juga. kecapaian, lelah. pengen sebenarnya menghabiskan malam2 ke depan hanya untuk ibadah. Berat banget rasanya kalau saban hari masih seperti ini. Seharusnya pekerjaan sudah tinggal santainya beberapa hari ini. sehingga ibadah bisa digenjot, maksimal. Siapa yang bisa menjamin ramadhan tahun depan masih bisa ketemu lagi. Memaksimalkan ramadhan bersama kekasihku. Saur bareng, bercengkrama dengan tiga jagoan, buka bareng meski suguhan sederhana, tapi kalau dilalui berdua, nikmat banget rasanya.
mengenai kebiasaan berbuka dan saur denan menu sederhana sudah biasa. Karena memang seharusnya urusan masak memasak seharusnya emang tidak perlu ada perbedaan dengan hari2 sebelum ramadhan. Sekedar untuk membiasakan diri dan mendidik anak-anak supaya tidak terbiasa dengan sesuatu yang berbeda ketika memasuki bulan ramadhan.
Alhamdulillah sudah lama juga anak2 terbiasa dengan suasana "biasa" ketika memasuki lebaran. Tidak harus dengan baju baru, atau segalanya baru. Kalaupun beli baju baru, lakukan saja diluar ramadhan atau tepatnya sebelum masuk bulan ramadhan. katakan, "beli baju" karena kita butuh, bukan karena "ini baju lebaran". Alhamdulillah si sulung sudah terbiasa dengan "kebiasaan" itu.
Pernah sih suatu kali dia tanya, "temen2 kok kalau lebaran ribut beli baju baru mi...?". Kalau ada pertanyaan kritis model begini, yah harus dijawab dengan bijak. "kan bajumu masih banyak yang baru?" artinya gak perlu beli baju barukan?.
May, sejauh ini tidak pernah menjadi anak yang selalu menuntut ini dan itu. Jajanpun bisa dibilang tidak seperti anak2 lain, yang harus sekian perhari. Karena memang sedari kecil dia tidak terbiasa dengan "jajan" sembarang. Apa yang lewat di depan rumah tidak mesti harus dibeli. Yah semuanya perlu usaha dan penjelasan yang tepat dan bijak, sehingga ia bisa terima argumen yang kita kemukakan.
Ramadhan kali ini May sudah beberapa kali bisa menyelesaikan shoumnya satu hari penuh. Alhamdulillah, kadang ngambek kalau tidak dibangunkan saur. Bukan apa2 sih, biarlah untuk sekedar latihan saja. Kalau tiap hari shoum takut tambah kurus, :). Bukankah emang udah kurus. Kurus bukan kurang gizi, emang modelnya begitu kayaknya, bawaan. energinya maksimal untuk bermain. namanya juga anak kecil. Daya nalarnya yang penting tidak ketinggalan. Bahkan kadang pertanyaan2 sudah mulai susah dijawab. semangat belajarnya yang penting tidak kendur. Kadang2 malah nagih. "mi, soal lagi mi...." Alhamdulillah, semoga sampai gede semangat itu tidak pernah mengendur.
mengenai kebiasaan berbuka dan saur denan menu sederhana sudah biasa. Karena memang seharusnya urusan masak memasak seharusnya emang tidak perlu ada perbedaan dengan hari2 sebelum ramadhan. Sekedar untuk membiasakan diri dan mendidik anak-anak supaya tidak terbiasa dengan sesuatu yang berbeda ketika memasuki bulan ramadhan.
Alhamdulillah sudah lama juga anak2 terbiasa dengan suasana "biasa" ketika memasuki lebaran. Tidak harus dengan baju baru, atau segalanya baru. Kalaupun beli baju baru, lakukan saja diluar ramadhan atau tepatnya sebelum masuk bulan ramadhan. katakan, "beli baju" karena kita butuh, bukan karena "ini baju lebaran". Alhamdulillah si sulung sudah terbiasa dengan "kebiasaan" itu.
Pernah sih suatu kali dia tanya, "temen2 kok kalau lebaran ribut beli baju baru mi...?". Kalau ada pertanyaan kritis model begini, yah harus dijawab dengan bijak. "kan bajumu masih banyak yang baru?" artinya gak perlu beli baju barukan?.
May, sejauh ini tidak pernah menjadi anak yang selalu menuntut ini dan itu. Jajanpun bisa dibilang tidak seperti anak2 lain, yang harus sekian perhari. Karena memang sedari kecil dia tidak terbiasa dengan "jajan" sembarang. Apa yang lewat di depan rumah tidak mesti harus dibeli. Yah semuanya perlu usaha dan penjelasan yang tepat dan bijak, sehingga ia bisa terima argumen yang kita kemukakan.
Ramadhan kali ini May sudah beberapa kali bisa menyelesaikan shoumnya satu hari penuh. Alhamdulillah, kadang ngambek kalau tidak dibangunkan saur. Bukan apa2 sih, biarlah untuk sekedar latihan saja. Kalau tiap hari shoum takut tambah kurus, :). Bukankah emang udah kurus. Kurus bukan kurang gizi, emang modelnya begitu kayaknya, bawaan. energinya maksimal untuk bermain. namanya juga anak kecil. Daya nalarnya yang penting tidak ketinggalan. Bahkan kadang pertanyaan2 sudah mulai susah dijawab. semangat belajarnya yang penting tidak kendur. Kadang2 malah nagih. "mi, soal lagi mi...." Alhamdulillah, semoga sampai gede semangat itu tidak pernah mengendur.
"Sejatinya dengan mengingat (berdzikir) Allah, hati akan tenang...".
Banyak orang jaman ini berkeluhkesah dengan apa yang dialaminya. Yang sedang tidak beruntung merasakan sesak di dada, seakan-akan dia adalah orang yang paling malang sejagat ini. Ketidakpunyaan dirasukkan kedalam dada, sehingga merasa dia adalah orang yang paling papa. Yang tidak beruntung karena sudah tidak punya orangtua merasa bahwa dia orang yang paling menyedihkan.
Ketidaktenangan bathin dilampiaskan dengan mencari jalan2 syetan. Diskotik, pub, ke tempat hibran malam, dll. ada juga yg mendengarkan musik2 syetan perusak kalbu. dalihnya adalah mencari ketenangan. ada juga yang sampai ke puncak2 gunung dan bukit, alasannya mencari ketentraman jiwa.
Bukankah kita ini punya Allah. tuhan yang tidak pernah luput menemani kita.
Banyak orang jaman ini berkeluhkesah dengan apa yang dialaminya. Yang sedang tidak beruntung merasakan sesak di dada, seakan-akan dia adalah orang yang paling malang sejagat ini. Ketidakpunyaan dirasukkan kedalam dada, sehingga merasa dia adalah orang yang paling papa. Yang tidak beruntung karena sudah tidak punya orangtua merasa bahwa dia orang yang paling menyedihkan.
Ketidaktenangan bathin dilampiaskan dengan mencari jalan2 syetan. Diskotik, pub, ke tempat hibran malam, dll. ada juga yg mendengarkan musik2 syetan perusak kalbu. dalihnya adalah mencari ketenangan. ada juga yang sampai ke puncak2 gunung dan bukit, alasannya mencari ketentraman jiwa.
Bukankah kita ini punya Allah. tuhan yang tidak pernah luput menemani kita.
Rabu, 09 September 2009
.::Catatan Ramadhan (1)::.
Ramadhan kali ini adalah ramadhan yang paling tidak optimal. Bagaimana mau optimal, baru juga dapet sepuluh hari, ech tubuh panas dingin. Gregess... apalagi skarang kalau udah kena flu lama sekali sembuhnya. Dua hari lewat puasa. Ntah ramadhan kapan terakhir puasa bisa batal gara2 sakit. Tapi semua harus diterima dengan lapang dada. toh semuanya datang dari Allah. Semua sudah ada qodarnya. Mudah2an saja ada umur untuk membayarnya pada bulan syawal yg akan datang.
Ramadhan masih seperti tahun2 lalu, tidak ada persiapan khusus dalam rangka menyambutnya. maka adalah wajar jika menjalani shoum ramadhanpun biasa2 saja. Seharusnya ramadhan benar2 dijadikan bulan melatih diri, mencuci kembali kekotoran jiwa selama 11 bulan ini. Ramadhan tidak seharusnya dilalui dengan biasa2 saja. Karena begitu agung dan mulyanya bulan ini.
Buat sebagian orang ramadhan adalah bulan yg benar2 istimewa dan diistimewakan. bahkan seorang kawan 2 bulan sebelumnya sudah menyiapkan diri. Sehingga ketika ramadhan tiba amal2 sholeh terus dijaga, bahkan beliau jarang sekali melewatkan program i'tikaf. Kapan aku bisa seperti itu lagi.
Hasil sebuah i'tikaf tidak terbantahkan. Luar biasa. Bagi mereka2 yang sulit mendapatkan jodoh, coba saja program ini. Insya Allah ada manfaatnya. Siapa tau dengan doa yang ikhlas, Allah akan melapangkan jalan menuju penyempurnaan dien. Diberi pasangan yang solehah/soleh. dikarunia anak2 yang sholeh/hah juga.
Senin, 22 Juni 2009
Sebuah Pelajaran...
Setiap saat dalam langkah pengembaraan ini, selalu saja ada pelajaran didalamnya. Sebuah ibrah yang membathinkan diri. Setiap lembar demi lembar kitab besar yang berisi kisah2 sejarah keberadaan kita di mayapada ini sudah semestinya menjadi semacam variable pendukung untuk langkah berikutnya. Variable2 yang akan menjadi formula, apa solusi pada hari berikutnya. Karena kalau tidak bisa kita jadikan semacam variable pendukung, maka kita akan mengulanngi kesulitan yang sama ketika harus menyelesaikan dan menghadapi pagi hari yang akan datang esok hari.
Kisah-kisah itu tentu saja beragam warnanya. Merah, kuning, biru, semua warna pasti ada didalamnya. Karena itu akan memunculkan suatu perpaduan warna yang elok. Hitam putih tentu saja adalah warna yang dominan. Karena pada hakikatnya hidup ini pada akhirnya ada Hitam dan Putih. Hanya ada 2 pilihan. Tidak ada lain lagi. Kehidupan yang dilalui penuh dengan kehati2an memungkinkan kita mengakhiri warna terlukis putih : syurgaNya, sebaliknya kehidupan yang dilalui dengan seadanya dan seenaknya maka mungkin saja akhir dari warna kehidupan ini adalah Hitam : terperosok dalam JahannamNya. Sebuah akhir yang mengecewakan, memilukan.
Langganan:
Postingan (Atom)